Seberapa Siap Indonesia Menghadapi MEA

Globalisasi adalah sebuah hal yang harus dihadapi dengan tenang dan juga tidak dengan gegabah. Salah satu yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini, yaitu integrasi ekonomi dalam bentuk perdagangan bebas yang ada di antar negara kawasan Asia Tenggara yang disebut juga dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Berbagai pendapat pro dan juga kontra yang bergulir menggiring berbagai macam informasi yang diberlakukan dalam MEA yang perlu diketahui. Selain sebagai sebuah informasi untuk dapat memahami dengan baik kebijakan ekonomi situs sbobet yang ada di kawasan ASEAN, hal ini juga sekaligus agar nantinya digunakan sebagai sebuah upaya untuk dapat mempersiapkan elemen dan komponen masyarakat.

Seberapa Siap Indonesia Menghadapi MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menjadi sebuah hal yang digagas sejak tahun 2003 yang dihadirkan dalam sebuah deklarasi yang disebut dengan Bali Summit telah menjadi sebuah hal yang telah resmi diberlakukan yaitu sejak akhir tahun 2015. Presiden Joko Widodo yaitu pada November 2015 mereka telah menyampaikan bahwa dalam sebuah forum perdagangan bebas ini nantinya, mau tak mau, siap atau tidak nantinya masyarakat Indonesia yang harus bisa berkompetisi dalam sebuah iklim ekonomi yang terbuka di Asia.

Survei yang telah dilakukan di Jakarta dengan melibatkan sebuah 46 responden. Hasilnya adalah hampir 65% responden yang sepakat Indonesia belum siap menghadapi terjadinya MEA. Sementara 26% lainnya berpendapat Indonesia merupakan sebuah negara yang sudah siap dan 9% responden berpandangan lain. Besarnya jumlah responden menyatakan ketidaksiapan masyarakat Indonesia untuk bersaing dalam pasar terbuka, dengan konsep integrasi ekonomi antara negara-negara kawasan yang ada di ASEAN. Yang sudah dilandasi dengan berbagai macam pemikiran, yang ada diantaranya:

SDM Indonesia Masih Belum Mampu Bersaing

Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia yang ternyata masih belum mampu bersaing dengan SDM negara lainnya, terutama juga dengan Malaysia dan juga dengan Singapura. Mentalitas yang masih terbilang rendah sehingga perlu adanya sebuah peningkatan. Ditambah juga dengan perilaku konsumtif yang cenderung tinggi. Transparansi yang ada di dalam penyelenggaraan pemerintahan yang masih kurang. Ketidaktegasan pemerintah untuk membentuk sebuah regulasi bisnis.

Lemahnya Perlindungan Pemerintah Atas Kekayaan Intelektual

Lemahnya sebuah perlindungan terhadap pemerintah terhadap sebuah Hak Atas Kekayaan Intelektual atau (Intellectual Property Rights) dan penguatan tentang usaha kecil dan menengah UKM yang kemudian membuat barang-barang lokal lemah dalam bersaing. Swasembada yang ada Indonesia di banyak bidang masih cenderung kurang dibandingkan jika dengan beberapa negara lainnya. Hingga saat ini kurangnya sosialisasi pemerintah tentang adanya MEA pada masyarakat.

Namun, survei tersebut belum bisa dianggap mewakili keseluruhan persepsi yang ada di masyarakat Indonesia. Hasil survei ini memberi sebuah gambaran lebih lanjut tentang pandangan masyarakat terhadap MEA. Hasilnya adalah pemahaman terhadap peluang dan risiko yang akan dihadapi para pelaku usaha, serta solusi untuk memecahkannya jelas menjadi sebuah hal yang masih sangat diperlukan.

Komponen Terdapat dalam MEA

Sebagaimana tujuan diciptakannya MEA yang secara definitif ingin menjadikan kawasan regional ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan basis produksi. Ada lima komponen yang perlu diketahui juga yang terdapat dalam pasar tunggal yang menjadi basis produksi, yang berada pada wilayah regional. Perputaran yang berada pada arus yang terbuka. Artinya adalah barang dari satu negara nantinya bisa masuk secara bebas pada suatu negara yang sudah menerapkan kebijakan ekonomi pasar tunggal.

Demikian pula negara tersebut nantinya bebas untuk menjual atau mengirimkan barangnya ke negara-negara yang memang berada dalam kerja sama pasar terbuka. Hal ini yang juga berlaku dalam MEA. Bagi sebuah negara, ketersediaan jasa di bidang tertentu nantinya jadi mengalami kelangkaan. Di dalam MEA yang dimaksudkan untuk memperkecil sebuah kesenjangan antarnegara di kawasan, maka arus bebas keluar masuknya jasa juga turut menjadi komponen yang ada. Terjadinya sebuah sharing jasa di suatu bidang yang terjadi antarnegara yang terlibat dalam MEA juga nantinya akan dimungkinkan untuk terjadi.

Investasi yang tadinya terjadi dalam negeri bisa juga lebih terbuka dalam MEA. Dikenal juga dengan istilah Foreign Direct Investment (FDI), investasi yang biasanya akan dilakukan suatu negara. Dilakukan dengan kapital yang cukup tinggi, dan langsung dilakukan tanpa melalui sebuah mekanisme yang rumit. Sama halnya juga dengan melakukan investasi, modal dasar yang dimiliki oleh suatu negara dalam bentuk SDA tak jarang hal ini juga terbatas. Dalam MEA, arus bebas modal bisa saja mengalir dari suatu negara ke dalam negara lain. Tenaga kerja terampil adalah sebuah aset yang ada bagi suatu bangsa. Dalam MEA, tenaga kerja yang terampil dari berbagai profesi bisa dengan bebas nantinya untuk bekerja di negara-negara yang memang terikat dalam kesepakatan kerja sama di dalam MEA.

Boleh ditarik juga sebuah kesimpulan jika MEA memiliki lima komponen dasar yang ternyata saling terkait. Yaitu arus bebas barang dan jasa, arus bebas investasi dan juga permodalan, tenaga kerja, dan jasa. Selain lima komponen yang sudah disebutkan, ada empat pilar yang ada di dalam MEA yang tersusun di atas: kompetisi ekonomi regional. Dimana pemerataan pembangunan ekonomi, integrasi ekonomi global dengan regional, serta pasar tunggal yang ada dan basis produksi.

Peningkatan Cara Menghadapi Dampak Negatif MEA

Setiap negara yang nantinya mengalami dampak yang berbeda-beda akibat diberlakukannya sistem MEA. Beberapa negara menjadi lebih maju dengan adanya penerapan pasar yang terbuka. Sementara bagi beberapa negara lainnya, pasar terbuka ini malah menjadi sebuah hal yang memberikan dampak yang negatif. Tak jarang beberapa negara yang malah mengalami kemunduran sebuah ekonomi lantaran negaranya menerapkan sebuah liberalisasi dalam bidang ekonomi. Sebagai contoh, Indonesia adalah sebuah negara agraris. Dengan demikian, sebagian besar hasil komoditasnya yaitu adalah produk pertanian.

Perlu diingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini telah banyak hasil pertanian yang berasa dari luar yang masuk ke Indonesia. Baik dari negara anggota ASEAN maupun juga ASEAN. Situasi tersebut nantinya akan mengancam ketahanan pangan dalam negeri. Padahal, dimana hasil pertanian yang ada Indonesia masih lebih baik kualitasnya ketimbang beberapa milik negara lain. Karena itu, Pemerintah yang juga harus terlibat dalam peningkatan hasil dari sektor pertanian dalam negeri.

Kunci Sukses MEA Tergantung pada SDM Indonesia

Setiap kebijakan, termasuk dengan dibentuknya MEA, memiliki sebuah sisi positif dan juga memiliki sebuah sisi negatif. Kunci suksesnya adalah ada di SDM di negara-negara yang nantinya akan menjalankannya. Dengan dibukanya sebuah MEA, tenaga kerja yang terampil yang ada di Indonesia nantinya akan punya celah untuk melakukan sebuah ekspansi ke luar negeri.

Sebagai sebuah contoh, tenaga kerja Singapura yang datang ke Indonesia akan semakin meningkat nantinya. Demikian pula dengan tenaga kerja Indonesia yang sangat mungkin nantinya untuk bisa masuk ke negara seperti negara Singapura dan Malaysia. Yang memang diketahui memiliki sebuah standar dan juga sebuah upah minimum yang lebih baik.

Dengan demikian, nantinya akan terjadi sebuah pemerataan ekonomi. Tentunya hal ini nantinya akan dapat membawa kemakmuran, serta kesejahteraan bagi sebagian besar tenaga kerja yang ada di Indonesia. Intinya, peningkatan kualitas dari individu yang ada di dalam negeri adalah salah satu solusi yang digunakan untuk dapat menghadapi MEA.

Demikian itulah beberapa faktor yang menentukan, apakah Indonesia sudah siap menghadapi MEA, dan apa saja faktor yang menjadi kesiapan tersebut. Sesungguhnya dibentuknya masyarakat ekonomi ASEAN atau MEA sebagai cara yang dilakukan untuk dapat memperluas pasar yang ada di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu kita harus dapat bersaing di tengah gempuran terjadinya MEA.