Mengenal Mitos Vs Fakta MEA Di Dunia

MEA ( Masyarakat Ekonomi Asia ) – dimana ASEAN menjadi salah satu pusatnya pasaran perdagangan yang ada di Indonesia ini. Dilansir dari salah satu situs yang ada bahwasannya, terdapat Mitos beserta fakta yang memiliki lawan arti dari MEA ini sendiri. Dimana sudah menjadi hal yang umum Mitos akan selalu terbantahkan oleh adanya Fakta. Namun dalam hal ini,apakah semuanya itu sepenuhnya Mitos atau justru Ini menjadi fakta nyatanya ?.. Siapa Yang Tahu!!!

Dimulai dari adanya Kekhawatiran di dalam menyongsong MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memanglah masih Merajalela di dalam waktu pelaksanaanya yang sudah dimulai sejak tanggal 31 Desember tahun 2015 silam.. dan dari sinilah terdapat pula sedikitnya kesalahan atau kekeliruan yang terjadi dalam memahami penerapan dari MEA itu sendiri. Sehingga mulai timbul lah mitos-mitos di tengah masyarakat, yang terutama di landasi langsung oleh soal Indonesia apakah mampu dalam menghadapi adanya MEA ini ?…

Kurang lebihnya terdapat beberapa Mitos yang memang harus disoroti lebih mendalam lagi dan bisa dijawabnya dengan penggunaan fakta yang sangat penting bagi MEA ini. Jika kalian belum paham mengenai MEA itu apa, maka bisa membaca setidaknya artikel seelum ini yang memang membahas inti pokok mengenai adanya MEA itu sendiri. Barulah sehabis itu kalian bisa mengetahui adanya Mitos dan Fakta mana yang mendukung adanya MEA ini!!

Seputar Mitos Yang Ada Pada Masyarakat Ekonomi ASEAN

Kurang lebihnya terdapat 3 mitos yang mendasari MEA ini sendiri. Dimana fakta ini bisa dimulai dari mitos pertamanya.

# Mitos MEA 1

MEA ini sendiri bisa dipahami sebagai salah satu pasar bebas atau Free Market yang memiliki arti nyata terhadap Mobilisasi, lalu juga barang serta jasa, dan juga terdapat adanya tenaga kerja yang dapat berlangsung di Negara anggota ASEAN tanpa harus mengalami hambatan yang pasti. Padahal kalian juga tahu, bahwasannya MEA ini sendiri tidak hanya sbagai salah satu pasar yang bebas, namun juga menjadi suatu pasar bersama atau Comon Market yang akan tebentuk berdasarkan dari 4 pilar pokok yakni :

–      Pasar tunggal yang memanglah berbasis pada produksinya.

–      Memiliki sebuah kawasan ekonomi yang memang berdayakan saing yang sangatlah tinggi.

–      Memiliki pembangunana ekonomi yang sangat merata.

–      Terdapat sautu Integritasi yang jelas terhadap Perekonomian Global yang ada.

Adakah Tujuan Tersendiri Dari Dibentuknya MEA ?..

Jawab : Tentu MEA ini memiliki tujuan tersendiri. Yanag dimana tujuannya itu untuk meningkatkan suatu kapasitas pasar masing-masing Negara anggota ASEAN. Dan dari sinilah nantinya di setiap Negara anggota ASEAN akan mampu untuk melakukan daya saing yang sehat. Dalam artian lain yakni , ASEAN sendiri sudah berupaya agar nantinya penerapan pasar bebas kawasan bisa menjadi lebih adil serta merata.

# Mitos 2 MEA

Pada mitos ini dinyatakan sudah asumsi bahwasannya MEA itu bisa untuk meningkatkan pergerakan tenaga kerja antarnegara ASEAN. Dan dari sinilah memberikan sebuah dampak yang semakin berimplikasoi terhadap ketatnya persaingan tenaga kerja yang ada di Indonesia.

MEA sendiri memiliki sebuah prinsip dimana tidak akan membuka kesempatan pekerjaan seluas-luasnya bagi tenaga kerja asing. Dan ini dikatakan benar MEA memang memiliki kebijakan mengenai hal tersebut yang dikenal dengan sebutan MRA atau pengaturan pengakuan bersama. Namun, MEA pun hanya dapat mengatur tenaga kerja yang Profesional bukan buruh. Dan yang diatur dalam hal ini ialah bidang pekerjaan pada sektoe Kesehatan, konstruksi, Pariwisata, akuntansi serta Surveyor.

Jika nantinya suatu komposisi tenaga kerja yang DOMESTIK Sbobet88 dibandingkan dengan tenaga kerja asing yang ada. Maka kurang lebihnya 5 jt orang di Indonesia yang bekerja di luar sana sudah mencakup sebagai pekerja professional serta pekerja Buruh.  Jumlah ini bisa dikatakan adalah jumlah yang lebih banyak di bandingkan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia kurang lebih dalam jumlah 64 ribu twnaga kerja yang ada. Ya jika dipersingkat tenaga kerja Indonesia akan mendapatkan sudut pandang yang Progresif di banding dengan tenaga kerja yang asing. Baik di Negara asing atau di Negara sendiri.

# Mitos 3 MEA

Terdapat lemahnya daya saing yang dimiliki oleh Indonesia. Dan ini benar adanya jika Indonesia menjadi salah satu Negara yang tidak unggul di dalam ke anggotaan ASEAN. Diambil dari sebuah situs Tempo Co, disini terdapat data yang menyebutkan Indeks daya saing jika dilihat secara Global 2014 – 2015 Singapura menjadi pesaing berat yakni menduduki peringkat teratas. Dimana masuk kedalam peringkat ke 2 terbesar yang ada di dunia. Kemudian barulah disusul oleh Malaysia di tingkat 20, Thailand di tingkat 31, serta Indonesia sendiri masuk di tingkat 34. Dan Indeks ini berdasarkan dari Inovasi, Infrastruktur, serta perkembangan finansial yang terjadi.

Biar mendapati kedudukan di peringkat ke 34, Indonesia sendiri tetap mendapatkan sebuah keunggulan tersendiri yang telah disiapkan dalam persaingan kawasan. Yakni, dilihat dari hal-hal ini :

–      Indonesia sendiri menjadi pasar terbesar yang ada di ASEAN dengan diisi 240 jiwa serta 1/3 dari pasar ASEAN ini memang ada di Indonesia. Dan ini menjadi salah satu bonus keunggulan yang di berikan oleh Indonesia.

–      Dari Kewirausahaan di Indonesia ini, mengalami perkembangan cukup signifikan yang terlihat jelas dari jumlah kapasitas kewirausahaannya. Usaha Mikro, dan UMKM sudah tumbuh sekitar 50 juta unut UMKM nya. Dan tahun 2007 lalu sudah meningkat menjadi 56 juta unit tahun 2013. Dan jika melihat nilai ekspor yang ada dari 140 Triliun hingga mencapai 200 triliun.

–      Presiden Joko Widodo pun juga sudah mencanangkan adanya paket-paket kebijakan ekonomi yang telah mendorong pertumbuhan dari Ekonomi itu sendiri. Berjalan dari adanya upaya dalam penyederhanaan regulasi, serta kemudahan di dalam proses bagi seorang Investor untuk bisa memperoleh izin dalam melakukan Investainya. Dan juga termasuk kedalam peningkatan kesejahteraan buruh. Bisa diambil contoh yakni adanya seorang Investor nanti bisa untuk mendapatkan Investmen Licensing Service dalam kurun waktu 3 jam saja.

Jika di persingkat, maka akan mendapatkan sebuah inti :

“ dimana, pemerintah sebaiknya saat ini itu bisa tetap berada di jalur koridor ya pas. Hal ini dinilai untuk bisa membantu dalam menangani berbagai macam isu-isu yang berkaitan langsung dengan adanya sebuah daya saing. Paling utama lagi jika dilihat dari peningkatan sejumlah kualitas Infrastruktur, pengembangan di Inovasinya, serta menjaga dalam ke stabilan nilai keuangan Negara. “

Maka, sebaliknya juga .. jika nanti Indonesia sendiri menunda dalam melakukan partisipasinya didalam Implementasi MEA, maka hal ini tidak akan semerta merta menjadikan Indonesia itu sendiri lebih baik dan lebih bisa dalam berdaya saing. Apalagi jika ini dilihat dari sudut pandang kondisi perekonomian secara global yang sangatlah Dinamis dan memiliki ketergantungan menuntut Negara-negara yang ada di dunia ini terus menerus berkembang agar nantinya mudah melakukan adaptasi terhadap pengaruh perubahan global yang terjadi.

Jika nanti Indonesia absen mengenai Implementasi MEA, kebayang dong hal ini menjadi penghambat utama bagi proses adaptasi Indonesia di dalam perekonomian Global.